Seiring berkembangnya informasi dan teknologi memberikan berbagai dampak terhadap psikologis seorang anak, baik itu positif maupun negatif.
Anak jaman sekarang sudah mahir dalam menjalankan berbagai piranti elektronik, sejak dini mereka telah diperkenalkan dengan berbagai teknologi, baik itu oleh orang tua ataupun lingkungan. Tetapi di balik itu semua ternyata menyimpan kekhawatiran tersendiri.
Coba Anda perhatikan! Anak-anak sekarang lebih gemar menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang berkisah mengenai percintaan, perselingkuhan dsb. Seharusnya di usia mereka di ajarkan mengenai lagu-lagu berrtema alam, bakti terhadap orang tua, persahabatan, perjuangan pahlawan dsb. Namun apa daya perkembangan informasi kalah cepat dengan peran orang tua.
Lihatlah gaya berpakaian anak jaman sekarang. Anak usia belia sudah bisa ber-make-up layaknya wanita dewasa. Mereka sudah mengenal yang namanya pacaran. Tanpa malu-malu mereka bermesra-mesraan di tempat umum.
Setiap hari libur anak-anak sekarang sibuk dengan menonton TV, bermain game, jalan-jalan ke Pusat Perbelanjaan. Akibatnya, Anak akan tumbuh menjadi orang yang individualis kurang bisa bersosialisasi dengan masyarakat.
Berbeda jauh dengan kondisi masa kanak-kanak saya dahulu. Setiap hari libur selalu di isi permainan tradisional dengan teman-teman sebaya, lompat tali, petak umpet, main gundu. Maklum ketika saya kecil, di dalam satu RW hanya ada beberapa rumah saja yang memiliki TV, itupun TV koran alias hitam putih. Jadi tidak memungkinkan untuk menonton TV. Kalaupun menonton TV dengan orang banyak alias rame-rame. hehehe.
Anak-anak di jaman saya dulu, gemar sekali menyanyikan lagu-lagu tradisional, gundul-gundul pacul itu lagu favorit saya, selain itu lagunya Dea Ananda berjudul 25 Nabi. Saya masih ingat sekali, sepulang sekolah sering mampir ke rumah teman yang memiliki TV dan DVD Player. Di situ, saya selalu di ajak nonton lagu-lagu anak, walaupun diulang-ulang setiap hari, gag ada yang namanya bosen.
Ketika duduk di bangku SD saya pernah di jodoh-jodohkan dengan teman cowok. Bukannya ngrasa seneng, tapi saya malu sekali sehingga saya menangis. Hal itu dipicu dengan masalah sepele sebenarnya, lantaran saya di haruskan bu guru untuk duduk satu bangku dengannya ketika ujian Catur Wulan (sekarang ujian semester) berlangsung. Anak-anak perempuan dulu malu ketika dekat dengan teman lawan jenis. Mereka selalu berkelompok, putra sendiri, putri sendiri dalam belajar ataupun bermain.
Dan satu lagi, ketika saya duduk di bangku SLTP, dapat dihitung dengan jari berapa anak yang sudah memiliki Telepon genggam alias HP. Karena HP kala itu adalah barang yang mewah. Saya sendiri diberikan Ponsel oleh orang tua ketika akan masuk SMA. Itupun Ponsel Poliponik. hehhe
Bicara masalah komputer dan internet, saya dan teman-teman mengenal internet, kala duduk di bangku kelas 3 SLTP. Itu pun karena tugas dari guru. Saya bersama teman-teman pergi ke warnet, warnet pun masih jarang sekali dijumpai.
Coba anak jaman sekarang, Anak TK saja sudah pada punya HP Canggih sudah tahu yang namanya browsing di internet. Mereka mudah sekali untuk mengakses situs-situs porno. Makanya tak aneh, jika dalam kasus asusila, banyak dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Menyedihkan sekali!
Para orang tua jangan berpikirbahwa jika anak sudah di sekolahkan kemudian anak akan tumbuh menjadi anak yang baik. Belum tentu! Tapi lebih dari itu, sekolah yang sejati itu sebenarnya ada dalam keluarga. Berapa jam sih anak berada di Sekolah? sebagian besar waktu mereka itu ada di rumah, sehingga pengawasan dan pendidikan dari keluarga itu jauh lebih penting.
Sumber : http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/11/15/anak-anak-dewasa-sebelum-waktunya-610990.html
EmoticonEmoticon